Wednesday, December 16, 2009

We're in the city of wonders...

Semua orang di Indonesia pasti tau tentang Jakarta. It's our capital, d'uh! Banyak orang berbondong-bondong urbanisasi massal ke tempat ini. Harapan akan easy fame and fortune ada di pikiran orang-orang yang belom pernah dan ingin pergi ke Jakarta. Mereka mikir kalo di Jakarta itu pasti penghasilan dan kerja pasti bagus. Yes, for some people it is. Sisanya? Kalo ngga punya life skills dan/atau pendidikan yang excellent, jarang yang bisa dapet kerjaan bagus. In a city of some 10 million cramped into a not-so big place, competition is fierce. Jadi filosofi di sini, yang kaya makin kaya, yang miskin tetep aja. It's a city of contrasts. Very big contrasts. Pandangan sehari-hari ya kayak gini, BMWs turning into upscale shopping districts full of people whose dress looks like a walking fashion show side by side dengan homeless people living under highways. Seriously, it looks like New York.

Sejak kecil gue selalu terbiasa dengan bagian Jakarta yang lebih upper-class, jadi gue kadang-kadang males pergi ke bagian-bagian yang menurut gue nggak high-end. Tiap gue pergi ke tempat-tempat kayak mall gitu, gue ngerasa udah terbiasa banget. Duduk di cafe nyari wi-fi make HP/laptop and watching the world go by. Suasananya relaxed. Hal-hal lain yang selalu gue lakukan adalah pasang mood-mood seperti envious, hateful, dan hal-hal negatif lainnya tapi pasang muka biasa-biasa aja kalo ngeliat orang yang lebih kaya daripada gue.

Suatu hari, gue sekeluarga pergi ke bagian kota yang ngga terlalu upscale. Gue sendiri udah lupa tempatnya dan alasan gue kesana. 5 menit disana, gue udah pengen lari ke depan truk, tapi ngga mungkin soalnya macet. Panas, gerah, sumpek. Pas lagi di sana nyokap gue ama adek gue pergi belanja entah apa, gue pergi ama bokap gue. Pas jalan di depan suatu gedung, bokap gue tiba-tiba ngomong gini:

Bokap: "Ini tempat sindikat narkoba"

Masyaoloh. Perasaan gue terakhir kali cek gue itu masih anak SMP, bukan detektif. Dan akhirnya selama perjalanan gue dengerin segala jenis teori kejahatan di kota sampe teori konspirasi dodol. Yaa, secara bokap gue doyan ama hal-hal politik, itu sih wajar. Gue? I'm in it for the fame and fortune. Kadang-kadang bokap gue sih doubleface, misalnya dia tim suksesnya si X, terus beberapa bulan kemudian dia ngomong tentang demo anti si X. Gue kadang-kadang doubleface juga sih. Hehehe.

Setelah pulang dari sana, I got a taste of Jakarta's darker side. Beda banget dengan apa yang sering gue liat. Dulu hampir tiap weekend gue nge-mall terus. Sekarang juga masih, dan pemandangan juga masih sama. Parking area yang lebih mirip showroom mobil import dan orang-orang yang handbagnya harganya lebih mahal dari laptop gue. Semuanya designer label. Jadi sekarang daripada Envy Meter gue naik dan gue dendam kesumat ke satu gedung, mendingan gue dirumah aja. Huhuhu.

No comments:

Post a Comment